Insentif Guru Honorer di Sleman Masih Jauh dari Harapan

Sahabat pembaca Info GTT PTT, sudah tahukah anda bahwa kesejahteraan guru tidak tetap (GTT) di Sleman, mungkin juga di DIJ dan wilayah lain, ternyata masih sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, perbedaan penghasilan GTT sangat timpang dibanding guru pegawai negeri sipil (PNS) yang tiap bulan menerima tunjangan sertifikasi senilai hampir sama dengan gaji rutin. Meski dari sisi kualitas maupun pengabdian hampir setara.

Bahkan, setelah ada kenaikan tunjangan pun, insentif yang diterima GTT masih jauh dari ideal. Jauh dari upah minimum kabupaten (UMK) untuk skala buruh pabrik.

Masalah itu sebenarnya bukanlah menjadi rahasia. Saat peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Gedung Serbaguna Denggung, Tridadi hal tersebut kembali terkuak.

Ketua PGRI Sleman Sudiyo mengatakan, insentif GTT dan pegawai tidak tetap (PTT) di lingkungan sekolah hanya berkisar Rp 325 ribu – Rp 1 juta (khusus guru honorer daerah kategori 2/K2). Itupun baru berlaku per 2017. “Memang ada peningkatan, tapi masih jauh dari harapan kami. Sebelumnya (2016) malah hanya Rp 250 ribu,” bebernya.

Sudiyo mengaku telah mengajukan usulan agar tak ada pembedaan antara GTT/PTT biasa dengan tenaga honorer K2. Atau setidaknya penghasilan total mereka setara dengan UMK Sleman. Namun, usulan tersebut tak disetujui oleh pemerintah daerah. Bahkan, target minimal insentif GTT/PTT Rp 400 ribu yang diajukan PGRI juga tak direspons positif.

Sudiyo menegaskan perlunya perhatian lebih dari pemerintah daerah terhadap kesejahteraan para pengampu pendidikan itu. Karena itu, dia meminta kebijakan insentif GTT/PTT dievaluasi lagi. “Sekarang kami terima keputusan itu. Tapi, ke depan kami minta turut dilibatkan dalam pembahasan (penentuan insentif GTT/PTT),” tegasnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo berdalih pembahasan insentif GTT/PTT dan K2 telah final, sehingga tak bisa direvisi. Dia bahkan menampik kebijakan pemerintah daerah tidak berimbang dan belum memihak GTT/PTT. Sri Purnomo mengklaim, pembahasan insentif dilakukan dengan seadil mungkin.

Alasannya,  memperhitungkan anggaran dalam rancangan APBD 2017. Untuk saat ini data GTT/PTT hingga K2 di Sleman mencapai 7.485 orang. “Memang belum bisa meningkat mendekati target UMK. Tapi kami upayakan secara bertahap setiap tahunnya.

Bagaimanapun juga kesejahteraan tenaga pendidik juga sangat penting,” ujarnya.

Di sisi lain, meski belum mampu memenuhi tuntutan GTT/PTT, orang nomor satu di Bumi Sembada itu justru meminta seluruh tenaga pendidik tetap fokus pada pengabdiannya. Di antaranya memenuhi empat kompetensi. Yakni,  kepribadian, sosial, pedagogis, dan akademik.

Berita ini bersumber dari Radar Jogja Online.
Share:

1 komentar:

Statistik Blog

Diberdayakan oleh Blogger.